Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2026

​Misteri Pembacok di Malam Berdarah: Dua Kesaksian Kontradiktif dan Sengkarut Penolakan Rumah Sakit

​Misteri Pembacok di Malam Berdarah: Dua Kesaksian Kontradiktif dan Sengkarut Penolakan Rumah Sakit

 

Karawang, BNN – Ruang sidang mendadak hening saat majelis hakim melontarkan sebuah dugaan fatal. Sidang kelima kasus tawuran maut yang kembali digelar siang ini memunculkan tabir baru: bukan hanya soal siapa eksekutor sebenarnya, melainkan juga tentang lambatnya penanganan medis yang diduga kuat menjadi penyebab hilangnya nyawa korban.

​Dalam persidangan kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga orang saksi—satu saksi utama sesuai Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dua saksi tambahan. Namun, alih-alih membuat perkara terang benderang, kesaksian mereka justru membuka kotak pandora yang memperumit jalannya kasus.

​Fakta menarik pertama muncul dari perbedaan mencolok antara keterangan Saksi 2 dan sosok bernama Botis.

​Versi BAP (Keterangan Botis): Di hadapan penyidik sebelumnya, Botis menunjuk langsung terdakwa sebagai pelaku pembacokan.

​Versi Saksi 2 di Persidangan: Saksi 2 membeberkan kronologi yang berbeda 180 derajat. Menurutnya, malam itu ia dan korban justru mendatangi Botis dengan niat baik—meminta agar kelompok Botis tidak menggelar tawuran di depan Alfamart.

​"Botis tidak terima ditegur. Dia langsung memukul korban," ujar Saksi 2 di hadapan Majelis Hakim.
​Situasi kemudian berubah menjadi mencekam. Sekitar 10 lebih orang rekan Botis merangsek maju bersenjatakan senjata tajam (sajam). Korban dan Saksi 2 lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Karena posisi Saksi 2 berada di belakang korban dan kondisi malam itu sangat gelap, ia mengaku tidak melihat jelas siapa yang mengayunkan sajam hingga merobek lengan kanan korban.

​Sementara itu, Saksi 1 yang juga dihadirkan JPU mengaku sama sekali tidak melihat detak-detik insiden karena pandangan yang terhalang gelapnya lokasi kejadian.

​Jika misteri pelaku utama masih abu-abu, fakta yang dibawa Saksi 3 justru menyentak nurani ruang sidang. Saksi 3 adalah orang yang berada di dalam Alfamart saat bentrokan pecah dan dengan berani membawa korban yang bersimbah darah untuk mencari pertolongan pukul 02.30 WIB.

​Perjalanan menyelamatkan nyawa itu berubah menjadi mimpi buruk birokrasi kesehatan:
Saksi 3 membawa korban ke
Klinik dari TKP memakan waktu 20 Menit  Ditolak. Hanya ada bidan, tidak ada dokter dan peralatan tidak memadai.

RS Karya Husada 1 Jam dari TKP Ditolak/Diarahkan. Saksi langsung ke UGD, namun pihak RS meminta korban langsung dibawa ke RS Izza.
Dari TKP ke RS IZZA memakan waktu 1 jam lebih dengan kondisi korban sudah tidak sadarkan diri dan darah terus mengalir. 

Mendengar korban yang terus mengucur darah selama lebih dari satu jam di jalan, Hakim Ketua tidak dapat menyembunyikan keheranannya atas sikap RS Karya Husada.

​"Ini merupakan rumah sakit yang tidak boleh menolak pasien (darurat). Apakah Anda menanyakan kenapa tidak bisa dirawat di sana?" tanya Hakim. Saksi 3 menggeleng, menyebut pihak RS hanya menyarankan untuk langsung ke RS Izza.

​Hakim pun melontarkan dugaan kuat bahwa kelalaian atau lambatnya penanganan medis menjadi faktor penentu kematian korban.

​"Korban mengalami luka di tangan. Jika cepat mendapat pertolongan, mustahil korban meninggal dunia," tegas Hakim, menduga kuat korban wafat akibat kehabisan darah di tengah jalan.

​Hingga sidang kelima ini berakhir, belum ada satu pun saksi yang bisa menunjuk hidung siapa pelaku pembacokan sebenarnya karena situasi chaos dan gelap gulita.

​Merespons sengkarut medis ini, tim Kuasa Hukum terdakwa langsung mengambil langkah agresif. Mereka meminta Majelis Hakim memerintahkan JPU untuk menghadirkan dokter dari RS Izza sebagai saksi ahli pada sidang hari Selasa mendatang.

​"Kami meminta kehadiran saksi ahli (dokter) demi keterbukaan informasi publik. Kita harus tahu apa penyebab pasti kematian korban," pungkas Kuasa Hukum terdakwa menutup persidangan hari ini.(Chika)

Rabu, 13 Mei 2026

Bupati Aep Lepas 445 Jemaah Haji Kloter 16 Asal Karawang ke Tanah Suci

Bupati Aep Lepas 445 Jemaah Haji Kloter 16 Asal Karawang ke Tanah Suci

 

Karawang, BNN – Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, secara resmi melepas keberangkatan jemaah haji Gelombang I Kloter 16 asal Kabupaten Karawang pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kegiatan pelepasan dilaksanakan di Masjid Al-Jihad Karawang, Kompleks Islamic Center Karawang, Minggu malam (10/5/2026).

Sebanyak 445 orang diberangkatkan dalam kloter tersebut, terdiri dari 441 jemaah haji dan empat petugas pendamping. Seluruh jemaah diberangkatkan menggunakan bus menuju Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.

Jemaah haji tertua dalam Kloter 16 tercatat atas nama Saum Marsin (82), warga Dusun Borontok Barat, Desa Sindangsari, Kecamatan Kutawaluya. Sedangkan jemaah termuda adalah Ahmad Hanif Ramadhan (19), warga Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur.

Dalam sambutannya, Bupati Aep berpesan kepada seluruh jemaah agar senantiasa menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji.

“Kami berpesan kepada seluruh jemaah untuk selalu menjaga kesehatan. Perjalanan ibadah ini memakan waktu kurang lebih 40 hari. Semoga seluruh jemaah diberikan kekuatan agar dapat melaksanakan rukun dan wajib haji dengan sempurna demi meraih ridho dan rahmat Allah SWT,” ujar Aep.

Pemerintah Kabupaten Karawang berharap seluruh jemaah haji diberikan kelancaran dan kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci serta kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.(*)

Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang, Dedi Mulyadi Siapkan Penataan Kota

Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang, Dedi Mulyadi Siapkan Penataan Kota

 

Karawang, BNN – Kirab Budaya dalam rangka peringatan Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang berlangsung meriah pada Sabtu malam (9/5/2026). Ribuan masyarakat memadati ruas Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Arif Rahman Hakim, Jalan Tuparev hingga Alun-Alun Karawang untuk menyaksikan perhelatan budaya tersebut.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bersama Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, serta Wakil Bupati Karawang, Maslani.

Dalam kirab budaya tersebut, rombongan kepala daerah turut ambil bagian dengan menunggangi kuda sambil mengiringi kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih.

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda juga menampilkan beragam kesenian khas dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Kabupaten Karawang sendiri menampilkan seni tradisional Jajangkungan hingga Topeng Banjet yang sukses menarik perhatian masyarakat.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan rencana penataan infrastruktur di kawasan pusat kota Karawang. Salah satu program yang akan dilakukan yakni pembangunan “Pelataran Cinta” melalui penataan lampu jalan, trotoar, taman kota, hingga pemindahan tiang dan kabel listrik ke bawah tanah di sepanjang Jalan Arif Rahman Hakim hingga Alun-Alun Karawang.

“Kedepan pak Bupati, kita tata oleh provinsi dan kabupaten, kita tata lampu, trotoar hingga taman dari sana (Jalan Arif Rahman Hakim) sampai sini (Alun-alun). Kita buat batu tulis isinya pesan-pesan cinta,” ujar Dedi.

Sementara itu, Bupati Karawang Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas terselenggaranya Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang.

“Alhamdulillah Kabupaten Karawang ini yang ketujuh. Terimakasih kepada pak Gubernur dan masyarakat, kalau melihat antusias masyarakat ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Bupati Aep juga menyatakan dukungannya terhadap rencana penataan infrastruktur yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di kawasan pusat kota Karawang.

“Alhamdulillah mudah-mudahan Pak Gub perencanaan untuk penurunan kabel dan lain-lain berjalan lancar. Dan insyaallah Karawang maju tentunya Jabar Istimewa,” tutupnya.

(Diskominfo)